Sabtu, 16 Januari 2016

Ketulusan takan pernah buruk

Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:
“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku  merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan di jalan, sebab sopan santunnya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampungan banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek setiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam Kamisnya. Apalagi setiap malam Kamis dan malam Minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget di sebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.
Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.

Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bisa menahan air mataku, mantan kekasihku Boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar suara  takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah di bawah ranjang pengantin kami.
Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu menafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungkitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyentuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin padaku? Apakah aku kurang di matanya? atau? Pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? Bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? Ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak di rumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekkan di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat Tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.

Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiaanmu.

Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?

Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008,  Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.

Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.

Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”

Selasa, 22 Desember 2015

Puisi nih hehe

Bintang kecil paling menawan

Hadirmu yang dulu semu dalam hidupku
Membuatku buta tentang sosokmu
Dan sekarang kau hadir bak petaka
Perkara yang ku anggap sekeping rasa

Kau tahu? Tiap malam kunyanyikan lagu rindu
Lagu dimana ku berharap kau menatapku
Kau sadar? Aku keluar garis sadarku
Seketika aku dapati senyummu

Tak banyak orang yang pandai berpura-pura atas perasaannya sendiri
Sesekali aku bisa berkata bodoh membodohi
Membencimu karena jauh
Menjauhimu karena dekat

Aku hanya mampu menyebut namamu dengan suara tertahan dari jantungku
Sedangkan kau tergambar jelas dalam nadiku
Nadi yang disetiapnya semakin padu
Dengan rasa yang sekian hari semakin menggebu-gebu

Langit lahirkan sunyinya sajak pujangga
Pujangga yang hancur dalam rindunya
Taukah kau siapa dia?
Aku, ya aku!
Aku yang takmau redup dalam tatapmu
Aku yang ingin sekali menyentuh hatimu
Aku yang bernadi serasi iramamu
Bak relasi gelap terbias membiasakan auramu

Seketika tertegap hatiku ini begitu sayang
Ketakutan yang slalu aku takuti datang
Begitu jemariku terlalu kecil untuk hatimu yang begitu besarnya
Dering alasku pun tak senyaring jauh besar sebegitunya

Tapi dengarlah gadis, Aku mencintaimu
Maka ijinkan aku menikmatinya, bahkan di setiapnya
Bahkan saat kau pergi menggalang rinduku di saatnya
Bahkan rindu seorang pengagum tak tahu diri di takdirnya

Untukmu gadis yang slalu jadi bintang
Yang kecil jauh dari hati
Paling menawan begitu garis lengkapnya melintang
Sungguh kehadiranmu bak jati diri
Maka ku ujarkan apa yang harusnya ku tentang
Maaf hatiku memilih kau untuk kukagumi.

ENTAHLAH

Entah darimana bulan itu terbit, karna senjaku terlalu sombong untuk membenamkannya, bisa saja aku habiskan kopiku di sela senjaku, tapi terlalu pahit untuk melupakan waktu, benar saja bulan itu datang sewaktu-waktu, tapi entahlah, mungkin saja aku salah menerka itu bulanku, bulan yang dirindukan bintang, tapi tak pernah terlintas sepi dalam benakku untuk meluapkannya, bukan saja takut, tapi ada kesadaran diri yang sudah lama aku benci, kopiku terlihat menertawaiku,entah itu tertawa membodohi atau bahkan sebaliknya, tapi aku yakin kopiku pagi ini adalah saksi dimana rasa sejati, kopi yang sejatinya meluluhkan rasa termanis, agar keduanya saling seimbang, lalu aku menertawai kopiku, bukannya membodohi, tapi itu adalah kesejatian, dimana rasa yang bisa saja luarbiasa, berasal dari kedua rasa yang saling menolak,bukan tentang jarak, tapi tentang bagaimana agar selalu dekat, tentang bagaimana saling membutuhkan.
 kusimpulkan lagi senyumku sesaat kupandangi bulan didompetku, matanya menggodaku untuk mengajaknya menari, dimana disetiap sisinya terguyur hujan,bulanku pagi ini terlalu kurang ajar, menumbuhkan rindu yang kurasa begitu sendunya, menggebu-gebu aku dibuatnya, namun aku ingin kau mengajariku tentang bagaimana mengungkapkan, karna jujur saja aku bukanlah salah satunya, karna yang kurasa pada saat itu, adalah rasa dimana hanya satu kali saja semua orang melakukannya, dan yang berhasil meluapkannya adalah sesuatu yang hebat pada dirinya, seseorang yang kesadaran dirinya tak terbatas.
masalah adalah jarak diantara kita, menjelma layaknya cermin yang memantulkan, yang disetiap sisinya terlihat sama, lalu kau bawa aku masuk dalam lingkaran dimana ku berharap kau akan mengikatku, tapi tidak, kau hanya membiarkanku ditengahnya, entah sampai kapanpun itu, kau membuatnya agar aku tak melihat dari sudut manapun, itu agar kau tetap terlihat menarik, kau tau? kau menghidupkanku semaumu, tapi dengan begitu saja kau menghidupkan semuaku, ingin sekali kusingkat jarak kita, mendekat agar tak terlalu jauh, dekat agar selalu dekat.
Entahlah, tapi gadis yang kusebut bulan itu adalah kopi terbaikku, aromanya lebih menarik dari siapapun, auranya menyikut siapa saja yang menatapnya, benar saja aku tertarik padanya, benar saja kau sikut aku tegak lurus dimana keduanya bertemu,  keduanya adalah ketertarikan dan ketakutan, ketakukutan atas perasaanku sendiri, dan aku hanya bisa menertawai perasaanku sendiri,tapi terlintas perasaanku begitu menarik, tapi entahlah, aku malu dibuatnya.
Bukan hal tabu jika aku terus mengaguminya, kulihat jam di arlojiku, lalu kulihat perasaanku,entah apa yang menyangkutkan keduanya, namun inilah rumus cinta yang sesungguhnya, semakin jauh waktu nantinya, akan semakin besar perasaannya, itulah kata pujangga yang hancur dalam rindunya.
Entahlah, aku seperti menggenggam angin, semakin besar apapun itu akan tetap saja, berharap hangat namun ternyata dingin, itulah sikap angin pada dasarnya, percuma saja tiap malam kunyanyikan lagu sendu tapi kenyataanya kau tak menatapnya, ah aku membodohi diriku sendiri, aku menyanyikannya seharusnya bukan untuknya, tapi untuk perasaan yang tak harus di mengertinya, itulah sikap ikhlas dalam mengagumi.
Jangan pernah waktu kerjamu mengganggu kopimu, dan tidur hanyalah membuang waktu kopimu.

Morning, love you.

Minggu, 01 November 2015

bintang kecil berhijabku sebenarnya bukan siapa yang dulunya aku banggakan, bukan, dia adalah sosok yang aktif dalam sistem kreatifnya, dalam periode dimana setiap orang tabisa merasakan angle yang aku lihat dari sosoknya, dia begitu cantik, mereka menyebutnya gila, dia begitu mempesona, mereka menyebutnya gila, dia begitu yang aku inginkan, mereka masih menyebutnya gila, mungkin sampai sekarang aku tak berani mendekatinya, bahkan satu kata pun harus difikirkan begitu lama, bukan karna apa, tapi karna aku takut dia ngerasa ilfeel, just her look likes perfect, walaupun pada dasarnya manusia takan ada yang sempurna, tapi lihatlah dia, begitu manja di senyumnya, aku menikmati setiap apa yang ia lakukan, dengan begitu saja aku merasakan rasa yang terkadang membisukan,mungkin aku bukanlah pengagum yang pandai membuka dirinya,aku terlalu dini untuk mencintainya, aku belajar sempurna agar dia bisa merasakan rasa yang selama ini aku rasakan, aku menikmatimu, bukan karan kita pernah dekat, bahkan kita belum pernah berbicara, terkadang aku berperang dan bersembunyi di bayangmu, karna dengan begitu saja mereka menganggapku gila, aku pernah menceritakanmu, membanggakanmu, menyombongkanmu di dalam doaku, aku menangis, aku merasakan ternyata aku begitu tulus mengagumi, ikhlas rasanya melihat kau pergi asal tak merasa sedih, semakin jelas jarak kita dewi anjani, jarak yg dulu aku benci. entah mengapa dulu saat kau melunglai didepan kelasku aku tak sanggup say halo, you give me something yang tidak semua orang bisa memberinya, aku menikmati semuanya, namun terasa begitu cepat sekali, aku ingat dimana kita pertama bertemu, dimana kau senyum kepadaku lalu berkata "kak, hpnya jatuh." aku terpanah, senyumnya ajari aku diam, namun dia berlalu, indah sekali rasanya, aku mencintainya dalam diam, pecundang macam apa aku ini. namun aku sadari, pecundang pun punya keberanian untuk memilih lawan dan kawannya, she's look beutifull dengan rainbow yang melekat pada auranya, sungguh sempat aku membayangkannya untuk berdua saja di sebuah taman, lalu kita bernyanyi menari dan bercanda sampai pagi, sampai waktu dimana kita punya buah hati, lalu kita duduk bertiga di depan tv lalu menonton film kartun bersama, lalu menonton bola dan bahagia berama ketika arsenal yang menang. tanpa ada yang mengganggunya, oh tuhan kenapa aku sebegtu terlalunya mengaguminya, aku menulisnya dengan hati yang begitu rintih dengan irama yg syahdu. if dream comes true apa yang kamu lakuin? jelas aku bakal ngeluarin apa yang harusnya aku nikmati, lebih dari kupu-kupu yang bary memngepakkan sayapnya lalu menikmati udara yang dulu diimpikannya, begitu lama, namun kepompongku mulai rapuh, bukan karna ada yang datang lalu menumbuhkan rasa, namun ada yang datang tapi itu sebuah kesadaran, percuma saja aku mengagumi dan semua orang lain tak mengertiku, sebuah pengertian macam apa yang ingin aku gambarkan? sebuah pengertian dimana tuhan menceritakan takdir manusia sudah diatur, jadi dimanapun jodohku sekarang, aku menunggumu, walaupun dia yang slalu aku semogakan.
untuk kamu yang sekarang aku pandangi gambaranmu, tetaplah tersenyum, ingin rasanya alasan senyummu aku, bahagia rasanya jika senyummu milikku, ingin rasanya ku menggenggam tanganmu, lalu akan kuajak menikmati keindahan naturalisme, dimana semuanya membuang topengnya msing-masing, bahagia rasanya jika topengmu itu aku. sekali lagi memilikimu adalah impian perbedaan, dimanakesadaran dan keinginan bergelut ribuan ronde, untuk membuktikan siapa pemenangnya, namun aku tak butuh kemenangan, aku hanya butuh kamu, datang lagi lalu kujatuhkan handphone ku lalu kau berkata"kak, hpnya jatuh." lalu aku buang lagi handphoneku, berharap kamu tersenyum lalu berkata,"hehehe kaka, hpnya jatuh lagi." dengan memiringkan kepalanya yang serasi dengan senyumnya, itu yang tergambar jelas sekarang, inget ya dream not ust be a difference, walaupun mimpi bertolak dengan kenyataan, but if i haven't dream can i can life? mimpiku kebahagianmu, kebahagianmu milikku, lalu aku milikmu, lalu aku memliki kebahagiaan yang lebih besar dalam hidupku, semoga kamu membacanya yaa, aku menyebutmu dewi anjani, dewi yang begitu sempurna di khayangan, itu khayalku, kamu berkali-kali aku ask, stalk, and more. selamat tidur kamu. dewi anjanikuuuu sayang, tulus rasanya tidurku, menceritakan bayanganmu yang menghantuiku. maaf sekali jika ini membuatmu ilfeel, tapi akan senang rasanya jika kamu melihatnya.  jangan lupa baca doa ya? jangan lupa cuci kaki ya? jangan lupa kalo tidur merem ya? jangan lupa prnya ya, semangat buat ujiannya nanti, you must be okaay girl, you must be happy girl, I have seen, you must be difference, every step you take, every word you say, and every gam you play, I'll be watching you, I love you girl, yes you are my supergirl.

Rabu, 21 Oktober 2015

BINGUNG? BOSAN? JENUH? ENAKNYA GINI BRO

Oke, selamat malam stalker, gini terkadang self control itu emang bener bener harus dijadiin prioritas, kadang kaya gimana sih takdir kita, kaya gimana sih aku di 20 tahun atau berapapun kedepan? nah yang terpenting bukan cuma njalanin gimana hidup kita, cobadeh atur waktu kaya bikin life schedule gitu. sengganya pertama kamu bikin kayajadwal tidur dan jadwal bangun, kalo itu udah teratur,lanjut ke jadwal makan, dan baru jadwal yang kamu btuhkan, time is money itu skrg emg belum kerasa, tapi nanti kita bener-bener bakalan nyeselin kaya "ah seharusnya gue dulu gini, kaya gitu bla bla bla." udah deh bro you must go on, jangan jadi pribadi yang biasa-biasa aja, kamu itu luar biasa loh, buktinya kamu ngalahin ribuan sperma dari bapamu, yakan? dan km juga sempet training di kandungan ibu kurang lebih 9 bulan, yakan? dan kamu lolos dengan selamat, yakan? apa kamu mau ngecewain ribuan kembaranmu yang gagal karna begitu luar biasanya kamu? apa kamu masih ngerasa paling bodoh? never feel it bro, kalo kamu ngerasa dimana titik terbesar kejenuhanmu dalam hidupmu, cobadeh lihat dirimu, looking at the miror, katakan pad cermin mau jadi apa kalo aku seperti ini terus? apakah ayah dan ibuku melahirkanku untuk merasa jenuh? apakah tuhan menciptakanku untuk selalu bersandar dalam diam? luapkan saja apa yang kamu jenuhkan sekarang, jangan dengan suara tertahan, karna pada dasarnya pendengar terbaikmu adalah dirimu sendiri, diri kamu tuh memang gabisa njawab dengan saran yang biasa dikasih temen kamu, tapi lebih gimana kenyamanan di kemudian hari yang bakalan kamu rasain, just wanna say apa yang kamu lakuin yang kamu rasain itu cuma kamu dan tuhan yang tahu, tuhan gak ngasih kita wahyu kalo kamu gini kamu kudu gitu, haha gak sebercanda itu bro, serajin apapun ibadahmu tuhan gabakal biarin makhluknya malas, kerja keras itu penting bro, aku punya cerita gimana sih tuhan ngasih jawaban, jadi gini..
pada suatu hari ada kakek yang usianya lanjut, dia rajin sekali ibadhnya, dia tinggal di pemukiman yang aman tentram bersama anak dan cucunya, short story pemukiman itu mengalami hujan yang begitu lebatnya, lalu kakek itu berdoa di sholat malam yang biasa dilakukannya
"tuhan, apa yang akan terjadi? lindungi aku dan keluargaku tuhan, aku masih ingin hidup bersama mereka."
lalu apa yang terjadi? keesokan harinya tenyata pemukiman itu banjir semata kaki, padahal pemukiman itu belum pernah banjir sebelumnya. sang kakek pun bertanya pada anak tunggalnya.
"hey rudi, mau kemana kau? tetaplah disini, ini tidak akan bertahan lama."
"sebaiknya kita mengungsi saja kek, pemerintah menyarankan begitu, ayo kek kemasi barang mu, atau perlu aku yang mengemasnya?" jawab anaknya.
"tidak perlu, tuhan pasti menolongku, lupakan kakek, kalian pasti akan kembali, dan kakek slalu menunggumu, ertahun-tahun kakek disini dan kejadian ini mungkin tidak akan lama,"
"yasudahlah kek, yang penting tetap kabarin saya yah?" ujar anaknya yang kemudian mendekapnya."
"kakek dimana barang kakek?" tanya cucunya yang begitu lucu menarik narik baju kakek.
kakek itu menunduk, "annisa, kakek masih punya banyak pr, jadi kakek disini dulu ya?" kemudian mereka berpelukan.
singkat cerita kakek itu tinggal seorang diri, semakin hari banjir semakin meninggi, sampai kakek itu sholat di atas meja makan, dia berdoa lagi di sepanjang sepertiga malam itu,
"ya tuhan, anak cucuku meninggalkan aku, bencana terbesarku bukan tentang nyaawaku, tapi tentang kebersamaan bersama mereka tuhan, ingin rasanya mereka kembali dan menghabiskan umurku bersamanya, selamatkan mereka ya tuhan, lindungi mereka." ujar kakek itu bersedih
keesokan harinya banjir merangkak sampe ke perut dewasa, tim penolong pun nampak sudah berpatroli untuk mengevakuasi warga yang masih terjebak, bersama dengan anaknya dan cucu kakek itu, tim penolong mengunjugni rumahnya, dan bertemu kakek tersebut,
"ayo kek kita mengungsi, jabat tanganku, aku ingin hidup bersama kakek lebih lama," ujar rudi.
"tidak perlu rudi, jika kau ingin bersamaku, tinggalah disini bersamaku, aku begitu mencintai rumah ini karna ibumu."
"yang terpenting bukan itu kek, lalu siapa yang akan menolong kakek? kek ikutlah bersamaku," sambung rudi
"tidak anaku, tuhan pasti akan menolongku, kau tak perlu khawatir, jika memang kau lebih percaya mereka, pergilah."
"bagaimana aku tidak khawtair? sedang ayahku satu-satunya ditengah bencana, ayolah kek ikut bersamaku, nanti kalo sudah reda kesini lagi."
"pergilah nak,"
"ayoo kek, annisa ingin pr annisa di jadiin cerita lagii." saut cucunya dari sekoci penolong.
"pergilah nak, naiklah sekoci itu, temui cucumu,  selamatkan dirimu." kemudian kakek itu beranjak naik ke atap rumahnya, "aku akan baik baik saja annisa, pr kakek akan selesai," sambungnya dari atap pohon smabil melambaikn tangannya.
singkat cerita kakek itu bertanya kepada tuhan kenapa tuhan tak menolongnya? dan membuat mereka percaya dengannya?
kemudian banjir itu semakin tinggi dan menenggelamkan kakek itu, anak dan cucunya pun bersedih menyesal kenapa mereka tidak coba memaksanya. dan selesai.
apa yang kalian tangkap? tuhan tak menolong kita? haha you wrong bro! tuhan menolong kita tanpa kita sadari, tuhan mendengarkan setiap doa umatnyaa, pada contoh tadi tuhan ngasih opsi penolongan berkali kali, mungkin tuhan kaya ngasih jawaban yang lebih indah tapi dengan sisi berbeda, dimana sisi itu akan lebih baik dari sebelumnya, tuhan tidak mungkin berkata hai kakek, pergilah, tidak, tidak mungkin, tuhan selalu menolong lewat perantara, jika kesempatan datang berkali kali dan ujian berkali kali, tuhan begitu menyayangimu.
oke aku ykin kalian mengertinya. dan aku harap ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk kedepannya, bahwa kaya apa salahnya kita mendengarkan sekitar kta? so life everytime change, tinggal kamunya aja gimana cara menanganinya, somebody have his problem, and somebody have everything, tinggal gimana kita milih opsinya, lalu aplikasikan untuk jadi passion kita, opsinya dari tuhan, dan itu tidak akan pernah merugikan.
so kesimpulannya kamu harus lebih bisa mengondisikan doamu dengan opsi yang tuhan kasih, pilih yang kemungkinan paling benar kamu percayai, karna syetan juga ngasih opsi yang merugikan, rugi tidak akan pernah menyenangkan bro, tapi mengalah bukan salah satunya, jadi gitu aja deh ya bro, sialhkan kamu nyimpulin dari sekian banyak yang aku tulis, semoga aja ini bermanfaat dan memotivasi kamu to be a good person gitu,  bukannya aku menggurui, tapi lebih berbagi pemikiran saja, anggap saja ini kaya terik matahari, kalo kamu merasa kepanasan silahkan berteduh, oke gitu aja ya bro! see you next page ya bro!

SUPER DAD, NEVER DEAD!

Kematian ayah terjadi dengan cara yang tak pernah aku duga. Ia meninggal pada usia 27 tahun. Ia masih muda, malah terlalu muda. Ayahku bukanlah seorang musisi ataupun orang terkenal. Tapi kanker tak pernah memilih korbannya. Ayah meninggal ketika aku masih kecil dan aku baru tahu apa itu pemakaman karenanya. Saat itu usiaku baru 8,5 tahun dan hingga kini masih merindukannya.  Ayahku adalah orang yang menyenangkan dan humoris. Ia juga penyayang yang selalu mencium keningku sebelum aku tidur. Ayah tak pernah bilang kalau ia akan meninggal. Meskipun ia terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selang di mana-mana, ia tak pernah bilang apa-apa. Hanya saja ia memberitahuku rencana yang ingin ia lakukan setahun ke depan, ia ingin pergi memancing, jalan-jalan, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Tadinya aku percaya rencananya akan terlaksana, hingga suatu hari ibu menjemputku di sekolah.  Aku dan ibu pergi ke rumah sakit. Dokter bilang ia sudah berusaha sebaik mungkin. Lalu ibu menangis. Ia sebenarnya menyimpan secercah harapan. Kemudian aku merasa marah, bukankah penyakit ayah adalah penyakit biasa, penyakit yang bisa disembuhkan dokter dengan satu suntikan? Aku berteriak penuh amarah di rumah sakit. Sampai ketika aku benar-benar menyadari ayah telah tiada, aku menangis.  Meski raga ayah sudah tak bernyawa, tapi napas kehidupannya masih bisa kurasakan. Seorang perawat mendatangiku dengan membawa sebuah kotak sepatu. Kotak sepatu itu berisi banyak sekali amplop. Aku awalnya tak mengerti sampai ia bilang, "Ayahmu memintaku memberikan surat-surat ini untukmu. Ia menghabiskan waktu seminggu penuh menulis ini semua dan ia ingin kamu membacanya. Tetaplah tegar."  Sebuah amplop bertuliskan "Ketika Aku Pergi" kubuka. Lalu aku membaca isinya.  Putraku, Saat kamu membaca surat ini, Ayah sudah pergi. Maaf. Ayah sebenarnya sudah tahu kalau Ayah akan meninggal. Ayah tak mau memberitahumu apa yang akan terjadi, Ayah tak ingin melihatmu menangis. Meski sekarang mungkin kamu sudah menangis. Ayah merasa kalau pria yang tahu dirinya tak akan berumur panjang boleh saja bertindak sedikit egois. Namun, kamu tahu, Ayah belum mengajarimu banyak hal. Oleh karena itu, Ayah membuat semua surat ini untukmu. Kamu baru boleh membukanya di saat yang tepat. Oke? Ini adalah kesepakatan kita. Ayah mencintaimu. Jaga ibumu. Kamu adalah kepala rumah tangga sekarang. Penuh cinta, Ayah. NB: Ayah tak menulis surat untuk ibumu. Ia sudah mendapatkan mobil Ayah.  Ayah malah membuatku berhenti menangis karena tulisannya jelek. Meski hati ini sedih, tapi aku bisa sedikit tersenyum. Aku kini tahu kalau kotak sepatu itu berisi banyak pelajaran hidup yang bisa mendewasakanku nantinya.  Aku pun tumbuh menjadi seorang remaja. Aku dan ibu pindah ke rumah yang baru. Sepeninggal Ayah, Ibu mengencani banyak pria tapi tak ada satu pun yang bisa menjadi kandidat terbaik untuk menggantikan posisi Ayah. Tapi Ibu masih saja bergonta-gani kekasih. Aku marah. Aku kesal. Terlebih ketika Ibu menamparku setelah aku komplain dengan kekasih barunya.  Tamparan Ibu tak sesakit rasa perih yang kurasakan dalam hati. Dan saat itu aku teringat dengan kotak sepatu dan surat-surat almarhum Ayah. Kuambil sepucuk surat yang bertuliskan "Ketika Kamu Bertengkar Hebat dengan Ibumu."  Sekarang minta maaflah kepada Ibumu, Aku tak tahu kenapa kamu bertengkar dan siapa yang benar dan salah. Tapi aku mengenal ibumu. Jadi minta maaflah dengan tulus demi menyelesaikan ini semua. Yang kumaksud minta maaflah dengan hati yang sungguh-sungguh. Ia adalah Ibumu, anakku. Ia mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini. Kau tahu ibu melahirkanmu dengan penuh perjuangan? Pernahkah kamu melihat seorang wanita melahirkan? Masih perlukah kubuktikan cinta yang lebih besar dari itu semua? Minta maaflah. Ia pasti akan memaafkanmu. Penuh cinta, Ayah.  Ayahku bukanlah seorang penulis yang baik. Ia hanyalah seorang pegawai bank biasa. Tapi kata-kata yang ia tulis itu benar-benar menyentuh perasaanku.  Aku langsung pergi ke kamar ibu. Dan betapa terkejutnya aku karena ia menangis. Matanya memerah dan terlihat jelas dirinya pun ikut terluka. Aku merengkuh tubuhnya dan memeluknya, "Maafkan aku, Bu." Ia memelukku erat dan tak butuh kata-kata untuk membuat kami berdamai dengan perasaan masing-masing.  Ayah selalu bersamaku hingga detik ini. Surat-suratnya selalu memberiku semangat hidup. Sampai kemudian aku menikah dan akhirnya punya anak. Sepucuk surat berjudul "Ketika Kamu Menjadi Seorang Ayah" akhirnya kubaca.  Sekarang kamu tahu apa itu cinta yang sebenarnya, putraku. Kamu akan menyadari cintamu pada istri sangatlah besar, tapi rasa cintamu pada seorang malaikat kecil di sana akan lebih besar lagi. Aku tak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan. Aku sudah menjadi mayat sekarang, bukan peramal nasib. Bersenang-senanglah. Ini adalah sebuah keajaiban. Waktu akan berlalu, jadi pastikan kamu selalu berada di dekatnya. Kenangan tak akan pernah bisa terulang. Mengganti popok dan memandikan bayimu akan memberi pelajaran berharga. Jadilah panutan yang baik untuknya. Aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat, sepertiku.  Waktu terus berjalan. Sampai sebuah kejadian paling menyedihkan dalam hidup kembali terjadi... Ibu meninggal.  Kubuka surat dari Ayah berjudul "Ketika Ibumu Meninggal". Dan surat itu adalah surat terpendek yang Ayah tulis sekaligus yang paling mengharukan. Hanya berisi tiga kata, tapi aku tahu Ayah pasti merasa sangat sedih dan terpukul saat menulisnya.  Ibumu sekarang milikku.  Sebuah gurauan. Tapi aku yakin di balik nada bercanda itu, hatinya saat itu pasti terasa remuk.  Sungguh luar biasa. Aku sekarang menjadi seorang pria tua. Usiaku sudah melebihi usia mendiang Ayahku. Namun, kini aku terbaring di tempat tidur di rumah sakit yang sama dengannya dulu. Waktu sudah berlalu. Kini aku merasa tak berdaya.  Sepucuk surat berjudul "Ketika Waktumu Tiba" tergeletak di dalam kotak. Aku takut membukanya. Aku tak ingin meninggal terlalu cepat. Tapi kucoba kumpulkan keberanianku. Kutarik napas dalam-dalam dan membaca isi surat tersebut.......
This is the story where everybody wanna be but just somebody do it.
Kisah pemuda dan ibunya yang gila
Kisah : Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental
Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy
Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya. Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya.
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut. Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :
“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…
Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Pemuda itu menjawab :
“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”
Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”
Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..
Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”
Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”
Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”
Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”
Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”
Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.
Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”
Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”
Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”
Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”
Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”
Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…
Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”
Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.
Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.
Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…
Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…
Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”. Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat. Seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???.